Secara umum bentuk dari polinomial adalah
Minggu, 17 Januari 2021
INIKAH INDONESIA ? ATAU INILAH INDONESIA
Indonesia adalah satu
Kita dilahirkan untuk bersatu
Berbangsa, berbahasa, dan bertumpah darah satu
Kita adalah negara yang kaya segalanya
Meski masing-masing dari kita dikaruniai sigma harta yang tak sama
Tapi kita terhimpun dibawah sucinya pancasila
Kita berjalan diatas kurva kehidupan yang berbeda
Dengan barisan dan deret sakralnya tradisi dan budaya
Seakan tak bisa dihitung jumlahnya
Kalaupun kau coba, pasti tak semudah menghitung barisan aritmatika
Meski begitu, kita tetaplah bhineka tunggal ika
Tetapi ironis, miris, dan mengenaskan
Kata-kata itu seakan pantas kita ungkapkan
Jika menengok ke sisi kiri garis bilangan indonesia
Yang kenyataannya adalah negara yang menjadi surganya gembong narkoba
Pelaku kriminalitas takterhingga
Aparat negara seakan membasmi dan mengeliminasi dalang-dalang mereka
Tapi ternyata cuma menjadi pemeras mengatasnamakan tugas
Hukum seakan hanya sekumpulan data yang dapat diperjual-belikan dibawah balok-balok meja pengadilan
Suap sudah menjadi hal yang lumrah demi kemenangan ketokan palu
Mereka lakukan tanpa rasa malu
Pejabat-pejabat korupsi selalu mengisi baris dan kolom matriks kabinet negeri
Rakyat dan pejabat tinggi negeri seakan tak punya relasi
Hanya menghasilkan kontradiksi
Rakyat hanya dianggap sebagai himpunan kosong takberarti
Bagi mereka negara hanya alas persegi dibawah monopoli
Hukum bisa dibeli, pendidikan dan moral tak terurus lagi, korupsi seakan jadi prestasi
Soal rakyat mereka tak perduli lagi
Pancasila ternodai begitu mudahnya
Atas nama bhineka tunggal ika
Inikah Indonesia ? atau inilah Indonesia
Duka Ibu Pertiwi
Lihatlah pertiwi sekarang..
Nampak stasioner dengan tuan berdasi
Tuan pemimpin dengan sejuta janji busuk
Yang katanya akan mengubah sinus menjadi cosecan
Yang mengubah negatif menjadi positif
Janji busuk !
Lihat
pertiwi ini
Amburadul
!
Rumit bak
logaritama
Akibat
deret janji tuan dasi
Janji-janji
imajiner
Lihatlah kini pertiwi ini..
Amburadul !
Bahan pokok melambung tinggi
Harga cabai mengeriting
Rupiah melemah
Presentase masalah datang bertubi-tubi
Bak lingkaran, tak pernah ada ujungnya
Kami ini
rakyat !
Tak butuh
metode eliminasi
Engkau
labuhi kami dengan premis premis yang semu
Jelas
benar sulit dipahami
Sadarlah kau wahai pejabat
Yang dikepalamu diduduki mahkota berpangkat
Engkau perlu sadar!
Hidup ini tak hanya sekedar laba dan kali lipat
Jangan berpura lupa hasil bagi dan ambil rugi
Sedang kau
lucu menjawab
Menuntut
kami rakyat kecil membangun balok-balok kerja keras
Agar
grafik hidup mengintegral
Lihat… itulah pemimpin pesilat lidah
Kenyataan mean usaha memang kunci masalah
Tapi… kau telah lupa
Kini duduk di tahta atas suara rakyat
Bulat Maafku
Jika aku pernah merasa
kemampuanku bagai deret tak terhingga
Mungkin hatiku sedang
bengkak oleh dimensi tiga arogasinku
Jika aku pernah merasa
seperti integral air laut,
Mungkin itu deferensial
putihnya nanah
Dari luka hati yang
terkena lancipnya kerucut jiwaku.
Jika aku perna merasa
wangi
Yang menyebar melewati
garis kosinus
Mungkin itu asap dari
deret geometri amal sholihku
Yang hangus dibakar cos 90° riya’ cahaya
Jika aku pernah merasa tinggi
Dipuncak kurva maksimum,
Mungkin batinku sedang melayang tampa pijakan absis pada
kartesius
Dipuncak sumbu y yang kehilangan
Pijakan koordinat cartesius.
Sahabatku…
Hanya lingkaran maaf yang tulus dari tali busur hatimu
Yang mampu mengeliminasi dosa-dosaku
Cintamu Berpangkat Namun Tetap Untukku
Cintamu…
Itulah yang selalu ku rasakan
Seperti halnya elemen-elemen yang
membentuk sebuah matriks
Ketulusanmu mengingatkanku pada angka
nol
Dimana ketika cintamu dibagi, maka tak
kan terhingga
Cinta dan kasihmu layaknya rumus
phytagoras
Manjadikan satu kesatuan yang utuh suatu
segitiga
Cintamu begitu sempurna
Bagai bola pada ruang
dimeni tiga
Dan tiada sudut yang
bisa menghalanginya
Seribu kali aku berfikir dengan logika
Bahkan dengan rumus matematika
Sangatlah sulit bagiku untuk menghitung
besarnya cintamu
Akankah aku bisa sepertimu ???
Entah, bagaimana aku bisa
membalas cintamu
Sulit bagiku untuk
melakukan itu
Sesulit ku memahami
hubungan sin dan cos
Yang saling melengkapi
Mungkin dunia akan
menertawakanku
Tapi apakah aku harus
diam ???
Tentu tidak,
Meski cintaku untukmu
bak sebuah garis asimtot
Yang terhalang oleh
jarak dan waktu
Namun cintaku tetap
berada di titik puncak parabola
Syukur, itu yang selalu ada dibenakku
Karena sesulit apapun hidupku
Akan terasa mudah menjalaninya
Jika engkau selalu bersamaku
Sungguh tak kan ku sesali memilikimu
Aku tanpamu bagaikan kalkulus tanpa
integral
Satu Pencipta, Beribu Karunia
Saat
mencoba seperkian detik renungkan batinku
Mensubtitusikan
jiwaku dengan segala karunia-Mu
Menyaksikan
betapa panjang x lebarnya dunia-Mu
Bersyukur,
takjub nan bangganya aku menjadi bagian dari itu
Engkau
satu-satunya sang pencipta
Pemilik
bola dunia yang fana
Beribu
karunia Engkau berikan cuma-cuma
Hanya
untuk hamba-hambaMu ini yang hina
Engkau
juga, yang mengkomposisikan semesta ini dengan begitu sistematis
Seelok
himpunan pasir di Pantai Parang Tritis
Rabb-Mu
yang kental akan sudut-sudut mistis
Membuat
diagonal pemikiranku sedikit kritis
Determinan
hatiku sesekali bertanya ?
Mengguncang
logika ku yang serat akan hipotesa
Dan
Engkau menjawab dengan siratan invers makna
Yang
dapat diketahui dengan adjoin kalam saja
Dari
situ engkau mengeliminasi setiap keraguan
Yang
menggelora disetiap garis pemikiran
Berderet-deret
cobaan yang engkau timpakan
Sebenarnya
untuk menguji geometri keimanan dan keteguhan hati
Aku
ucapkan kata syukur sekali lagi
Dapat
diciptakan dalam bentuk bangun ruang ini
Yang
memiliki grafik kesempurnaan jasmani dan rohani
Melebihi
variable hayati maupun hewani
Tuhan
Tanpa
ragu kugambarkan perasaanku
Lewat
garis lengkung 35° dari bibir manisku
Hanya untuk mengagumi segala bundaran karunia-Mu
HITUNGAN DALAM ASMARA
Hati kecilku tak dapat lagi menyuara
Sebuah rasa menyeruak di dalam jiwa
Seperti nilai mutlak yang tak dapat dirubah
Seperti penjumlahan yang selalu bertambah
Jauh kutambatkan rasa
Terpendam dalam hati namun tak tergoyah
Yang selalu sama dari masa ke masa
Seperti beda dalam barisan aritmatika
Hanya lewat goresan kata
Ku ungkapkan segenap rasa
Sebuah rasa asmara tak terkira
Seperti dalam himpunan tak berhingga
Kau adalah belahan jiwa
Yang hadir dalam setiap mimpi indah
Berharap memberi rasa yang sama
Dalam cinta dan rahasia
HITUNGAN BUNGA NEGARA
Teruntai kata mengungkap makna
Bunga negaraku berkorban terselip pemberian
Siapa kau duri mancanegara
Berani mendesis melawan garis bilangan
Bahwa kemerdekaan hanya pemberian
Bunga Negara, kemerdekaanku adalah cucuran darah dan
keringatmu
Kau pecahkan debu-debu kolonial
Laksana πr2
memecahkan biku lingkaran
Tak kenal asa menghitung volume benteng pertahanan
Teralunkan denyut nadi
Berdenyut api perjuangan menuju kemerdekaan
Seperti kuncup yang akan bermekaran
Kau kuak satu persatu lempengan kegelapan
Bak fajar menyongsong pagi
Barisan tongkat-tongkat bambumu saling berpotongan
diagonal
Kesetianmu pada nusa dan bangsa
Laksana angka satu yang selalu menguntit angka nol
Kebanggaanmu pada Indonesia tercinta
Tak memiliki ujung bak lingkaran
Tuntunlah kami para pemula
Dengan rumus-rumus deret jejak pejuanganmu
Agar tak tertutup lempengan hitam kembali
Dan semakin tegores jelas lentera-lentera proklamasi
Tuhan, balaslah setiap cucuran darahnya
Dengan sepetak tanah berlantai emas di surga
Satu Cinta Dalam Matematika
Langit merona penuh pesona
Menjingga
pada porosnya
Mengingat
ia yang jauh berasional di sana
Kuhitung kerinduan ini
Pada wanita
inspirasi
Rasa
sayangku padamu
Bak sebuah
lingkaran
Yang tak
pernah memiliki ujung
Yang tak pernah habis di makan waktu
Kan selalu
utuh seutuh bilangan bulat
Yang tak
kan pernah terpecah seperti bilangan cacah
Indah
matamu sebiru blaise pascal
Panjang
rambutmu terurai
Saling berpotongan
seperti diagonal
Dari jauh
hanya kutatap dirimu
Kutapaki
deret jejak kakimu
Ku yakin
skala cintaku tak terhingga padamu
Volume
kasihku tak kan habis untukmu
Yang
menjadikan kita seperti satu garis lurus
Bak garis
khatulistiwa
Yang
berputar mengelilingi dunia
Cintaku Satu
Diriku satu
1 + 1 itulah cinta
Cintaku takkan pernah terbagi
Karena hatiku hanya untukmu seorang
Cintaku seperti lingkaran
Mempunyai satu titik yaitu kamu
Aku adalah garis melingkar mengkelilingimu
Cintaku tak terhingga seperti sudut lingkaran
Cintaku + cintamu menjadi kita
Cintaku – cintamu menjadi nol
Satu hatiku
X satu hati mu menjadi satu hati
Maka cinta tidak boleh dibagi-bagi
Momen cintaku tegak lurus dengan momomen cintamu
Seperti garis vertikal
Yang akan selalu berdiri tegak tuk menjaga mu
Karena ku tahu aku dan kamu akan menjadi satu
Satu-Satunya
Tak
ada rumus yang mampu diaplikasikan
Tuk
menghitung segala rahmat-Mu
Bahkan
pxl
pun tidaklah cukup
Tuk
mengukur luasnya samudra ampunan-Mu
Andai
ada tiga posisi dalam kehidupan ini
Layaknya
segitiga sama kaki
Maka
relakanlah jika Engkau
Menepati
posisi teratas dalam kehidupan ini
Tuhanku
…
Engkau
laksana kurung kurva
Yang
menghimpun segala aspek kehidupan
Juga
unsur-unsur di semesta ini
Engkau
tak seperti tembereng
Juga
tak seperti al-jabar yang dibantu
Engkau
murni bagaikan konstanta
Yang
tidak dibantu tetapi berdiri sendiri
Begitu
banyak dosa yang kulakukan
1
diriku 1000 dosaku
1000
dosaku tak sebanding dengan 1 amalanku
Terlalu
banyak dosa sepanjang hidupku
Tuhanku
…
Di
bawah kubah ku berdo’a
Ku
berelasi memanjatkan sejuta do’a
Memohon
ampunan dari Yang Maha Esa
Karena
ku sadar
Satu-satunya
tempat tuk memohon
Satu-satunya
tempat tuk bersujud
Hanyalah
menghadap Engkau wahai Tuhanku
NOMOR SATU
Setiap orang tahu
Dalam ilmu matematika
Bilangan satu juga sering disebut angka satu
Tapi banyak orang
hanya menginginkan
Yang nomor satu
Di bangku sekolah
Murid saling unjuk ilmu
Mengacungkan telunjuk pada guru
Ingin menguji bahwa dirinya paling mampu
Mendapatkan nomor satu
Di area olahraga pun
Kerap terjadi seperti itu
Bertanding penuh nafsu
Tanpa didasari suportifitas yang tinggi
Berjibaku berebut nomor satu
Juga di gelanggang politik
Banyak pemimpin saling menepuk dada
Masing-masing mengatakan paling bisa
Saling debat dan melecehkan martabat
Semata agar dikatakan, nomor satu
Wajar saja
Setiap orang menginginkan yang nomor satu
Tapi apakah bisa meraihnya tanpa perjuangan dan
kejujuran?
Bagaimanakah jadinya jika mendapatkannya tanpa etika
dan moral
Seperti yang kita lihat sehari-hari di layar kaca
Banyak yang mengaku nomor satu
Penampilannya gagah berdasi mahal
Bicara ceplas-ceplos berputar-putar
Bergaya intelektual
Tapi ternyata semua itu membual
Sekarang
Kita pelajari matematika
Banyak soal yang harus dikerjakan
Kita cari rumusnya lalu kita isi bersama
Yang masih kurang seharusnya ditambah oleh yang
kelebihan
Dengan diniati Ibadah kepada yang nomor satu sejati
Allah SWT
Agar hidup bisa serasi, tenteram dan barokah
Dengan ridho-Nya
SIMPUL CINTA
Simpul
Yang meski tak miliki sisi tetaplah disebut graf
Simpul adalah sebuah keistimewaan
Meski hanya setitik, tapi kedudukannya sangat
istimewa
Tanpa simpul, tak
akan bisa membentuk graf
Aku ingin jadi simpulmu
Yang hadirnya adalah keistimewaan
Jika tanpa kehadiranku kamu belum sempurna
Namun, jika ku tak mampu jadi kesempurnaan itu
Ku ingin jadi sisi tegakmu, menopang semua
kegundahanmu
Atau biarkan aku menjadi alas, yang saat kau jatuh
selalu ada tuk merengkuhmu
Aku dan kamu adalah korespondensi satu-satu
Tak ada yang
bisa bercabang
Hatiku untukmu dan hatimu untukku
Kita adalah dua titik yang disatukan oleh garis
takdir
Ibarat sebuah koordinat kutub
Kamu adalah absis dan akulah koordinatnya
Yang akan bertemu disebuah titik, yaitu cinta
Cintaku tidaklah besar, hanya seluas lingkaran
Tapi kamu tahu, lingkaran tak mempunyai titik sudut
Dan rindu ini, seperti deret-deret geometri yang tak
hingga
Atau biarkan sederhananya, rindu ini seperti angka
satu dibagi nol tak hingga
Aku tidak bisa berjanji banyak
Tapi cukuplah rasa ini bagai aksioma
Yang tak perlu kamu buktikan lagi kebenarannya
PENCURAH ILMU
Sinarmu bulat ,
se-bulat matahari ..
Kasih sayangmu seperti
bilangan pecahan
Yang slalu kau bagi kepada anak didikmu ..
Cinta mu selalu berpangkat
..
Tak terhabiskan oleh
waktu ..
Perhatian mu selalu
mewarnai sudut – sudut hariku ..
Kata maaf mu lebih
besar dan luas dari samudera biru ..
Oh,GURUKU ..
Kau beri aku rumus
rumus andalan mu ..
Untuk ku meniti
kehidupanku yang lebih terang ..
Di masa depan ..
Ilmu yang kau curahkan
..
Bagaikan lingkaran yang
tak bertepi ..
Kesuksesanku ..
Tak sebanding dengan
pengorbanan mu ..
Himpunan pengetahuan
slalu kau berikan ..
Senyum tulus mu ..
Mengurangi penatku
dalam menuntut ilmu ..
Kalimat TERIMA KASIH
akan slalu menemanimu ..
SULUNG
Sulung… ya.. si Sulung
Punyai badan yang kaku tak permanen
Pembuka tabir barisan gerombolan Fibonacci
Yang akan selalu hadir di kehidupan sang putih
abu-abu
Sulung sang pembagi yang harmonis
Yang selalu bertetangga para bilangan komposit
Dan kuadrat yang tak sampai menemaninya
Berkali-kali
dibaca si disleksia
Berkali-kali
pula dihitung si diskalkulia
Dan
suatau ketika….???
Sulung
berdiri tegak bak sisi-sisi bujur sangkar
Dikawal
oleh seonggok rumus-rumus mathematik
Sebagai
kado tuk para pelayat ilmu
Setelah
lama berhibernasi
Yang
terbungkus kertas-kertas suci berpose balok
Makhluk
kasar bergincu merah janda yang membawanya
Siapa
mengerumuni daging hidup berkulit yang berjalan dan bernafas
Bak
vampir-vampir yang haus akan darah
Sulung… ya… si Sulung…!!!
Payungmu adalah kehidupan yang istimewa
Bagaimna tidak…??
Tangga-tangga ukur matematik, tangga-tangga debit
matematik
Yang selalu memberikan tempat spesial
Bak sudut-sudut istimewa sebuah segitiga
Aaahhh…!!!
Sulitnya
mengalahkanmu
Sesulit
menjawab rumus-rumus trigonometri
Sulitnya
menyalipmu
Sesulit
mengartikan hukum sinus-consinus
Aku
tau memang kau yang selalu menang
WOoooWw…!!!
Tepukan
tangan halus dan kasar untukmu….. Sulung yang hebat.






